Ketika Kenyamanan Berubah Menjadi Kerinduan

Ketika Kenyamanan Berubah Menjadi Kerinduan

Ketika Kenyamanan Berubah Menjadi Kerinduan

persahabatan dewasa ketika kenyamanan berubah menjadi kerinduan

Aku tidak pernah benar-benar merencanakan agar semuanya menjadi seperti ini.

Kami bertemu di ruang rapat yang sama setiap Selasa pagi selama hampir tiga tahun. Dia duduk di kursi ketiga dari kiri, selalu membawa tumbler stainless steel berwarna gunmetal yang sama, selalu mencatat dengan pulpen hitam Pilot G2 0.5, selalu mengangguk pelan saat mendengarkan orang lain berbicara—gerakan kecil yang entah kenapa terasa sangat tenang bagiku.

Namanya Maya.

Aku memanggilnya Mbak Maya di depan orang lain, tapi dalam hati sudah lama memanggilnya hanya “Maya” saja.

Semuanya dimulai dari hal-hal yang sangat biasa. Kopi yang kubawakan karena kebetulan lewat pantry saat dia sedang mengaduk gula dengan ekspresi setengah mengantuk. Payung yang kupinjamkan saat hujan deras dan dia lupa bawa. Pesan singkat jam setengah enam sore yang berisi hanya satu kalimat:

“Masih di kantor?”

Dan jawabanku yang selalu sama:

“Masih. Kamu?”

Lalu percakapan kecil itu berlanjut menjadi kebiasaan. Menunggu lift bersama di lantai 17 menjadi momen yang kutunggu-tunggu. Duduk berseberangan di kantin lantai 3 sambil pura-pura fokus ke ponsel padahal sesekali saling lirik. Tertawa pelan saat salah satu dari kami membuat lelucon yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat.

Kenyamanan itu datang begitu pelan sehingga aku tidak sempat waspada.

Kami tidak pernah mengakui apa pun secara resmi. Tidak ada status. Tidak ada “kita pacaran”. Tidak ada janji untuk masa depan. Hanya ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang semakin lama semakin terasa seperti napas.

Kami tidur bersama untuk pertama kalinya di apartemenku, malam setelah acara company gathering yang berakhir terlalu larut. Bukan karena alkohol—kami berdua sadar sepenuhnya. Bukan karena dorongan nafsu yang membabi buta. Lebih kepada rasa lelah yang sama-sama kami rasakan, dan keinginan untuk tidak pulang sendirian malam itu.

Aku ingat betul bagaimana dia melepas blazer hitamnya dengan gerakan lambat, bagaimana rambutnya yang biasanya diikat rapi kini terurai sedikit berantakan, bagaimana dia menatapku dengan mata yang tenang tapi penuh pertanyaan yang tak terucap.

Malam itu kami tidak terburu-buru.

Aku menciumnya perlahan, seolah takut kalau terlalu cepat maka momen itu akan pecah. Bibirnya lembut, hangat, dan sedikit bergetar—bukan karena gugup, melainkan karena dia juga menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam. Tangannya menyelinap ke bawah kemejaku, jemarinya dingin menyentuh punggungku, dan aku merinding bukan karena suhu, melainkan karena akhirnya aku benar-benar merasakan dia.

Kami bercinta dengan tenang, hampir seperti sedang berdoa.

Tidak ada teriakan, tidak ada kata-kata kotor yang sengaja diucapkan untuk membangkitkan gairah. Hanya napas yang saling bercampur, desahan pelan yang hampir seperti bisikan, dan gerakan tubuh yang seolah sudah tahu persis apa yang diinginkan tubuh satunya. Saat aku masuk ke dalam dirinya, dia menggigit bibir bawahnya sendiri, matanya terpejam rapat sejenak, lalu membuka lagi dan menatapku dengan pandangan yang sulit kujelaskan—campuran antara syukur, kerapuhan, dan hasrat yang dalam.

Setelahnya kami berbaring dalam diam yang nyaman. Dia menyandarkan kepalanya di lekuk leherku, jarinya menggambar lingkaran kecil tak beraturan di dada kiriku. Aku mencium rambutnya yang berbau shampo mint dan sedikit parfum vanilla yang selalu dia pakai.

“Jangan bilang apa-apa dulu,” katanya pelan. “Aku cuma ingin merasakan ini dulu.”

Aku mengangguk. Aku juga tidak tahu harus bilang apa.

Sejak malam itu, pola kami berubah tanpa pernah kami diskusikan.

Kami tetap profesional di kantor. Tetap memanggil “Mbak Maya” dan “Mas” di depan rekan kerja. Tetap duduk berjauhan di meeting. Tetapi setelah jam kerja usai, salah satu dari kami akan mengirim pesan sederhana:

“Pulang bareng?”

Dan jawabannya hampir selalu ya.

Kami menghabiskan malam-malam di antara apartemenku dan apartemennya. Kadang hanya tidur berpelukan sambil menonton serial yang sama tanpa benar-benar fokus. Kadang bercinta hingga larut, kadang hanya saling menyentuh dengan malas-malasan sambil berbicara tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.

Aku menyukai caranya bernapas saat hampir mencapai puncak—napasnya menjadi pendek-pendek, hampir seperti tersendat, lalu tiba-tiba dia akan mengeratkan pelukannya dan mengeluarkan suara kecil yang seperti erangan tapi juga seperti isak bahagia. Aku menyukai caranya memelukku dari belakang saat aku sedang membuat kopi pagi hari, dagunya bertumpu di pundakku, tangannya melingkar di pinggangku dengan posesif yang lembut.

Semuanya terasa sangat benar.

Terlalu benar.

Hingga suatu malam dia berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar:

“Aku dapat tawaran pindah ke Singapura. Kontrak tiga tahun. Mulai empat bulan lagi.”

Aku diam. Gelas yang sedang kugenggam tiba-tiba terasa sangat berat.

“Kamu mau ambil?” tanyaku, berusaha terdengar netral.

Dia menatapku lama.

“Aku belum tahu,” jawabnya. “Tapi aku takut… kalau aku tidak ambil, nanti aku menyesal. Dan kalau aku ambil, aku juga takut menyesal.”

Malam itu kami bercinta dengan intensitas yang berbeda.

Bukan karena nafsu yang lebih besar, melainkan karena ada rasa putus asa yang ingin kami lepaskan lewat tubuh masing-masing. Aku menciumnya dengan lapar, hampir kasar, seolah ingin meninggalkan jejak di setiap inci kulitnya. Dia membalas dengan gigitan kecil di bahuku, cakaran pelan di punggungku, dan air mata yang akhirnya jatuh saat kami mencapai klimaks bersama.

Setelahnya dia menangis dalam pelukanku—bukan tangis dramatis, hanya isak pelan yang membuat bahuku basah.

“Aku tidak mau kehilangan ini,” katanya. “Tapi aku juga tidak mau kita jadi orang yang saling menahan.”

Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Karena aku tahu dia benar.

Dan itulah awal dari kerinduan yang sebenarnya.

Sekarang dia sudah di Singapura hampir sepuluh bulan.

Kami masih berkomunikasi hampir setiap hari. Video call, pesan suara, foto-foto kecil yang dikirim tanpa caption. Tapi semuanya terasa berbeda. Ada jarak yang tidak bisa dijangkau oleh teknologi.

Aku sering terbangun tengah malam karena merindukan caranya bernapas di sampingku. Aku merindukan bobot tubuhnya saat dia tidur setengah menindihku. Aku merindukan aroma mint dan vanilla yang tertinggal di bantal. Aku merindukan desahannya yang pelan saat aku menyentuhnya dengan jari-jariku di tempat yang paling sensitif baginya.

Kenyamanan yang dulu kami miliki telah berubah menjadi kerinduan yang menusuk.

Dan yang paling menyakitkan adalah aku tahu—dia juga merasakan hal yang sama.

Semalam dia mengirim pesan suara. Suaranya sedikit serak, mungkin karena menahan tangis atau karena lelah.

“Mas… aku kadang masih merasa kamu ada di sebelahku saat aku mau tidur. Lalu aku sadar kamu tidak ada. Dan rasanya seperti ada yang dicabut dari dalam dada.”

Aku mendengarkan pesan itu berulang-ulang sampai pagi.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Apakah kami akan bertemu lagi dalam bentuk yang sama seperti dulu. Apakah kami akan tetap bertahan dalam kerinduan ini sampai salah satu dari kami menyerah. Atau apakah suatu hari nanti kami akan belajar melepaskan—bukan karena berhenti mencintai, melainkan karena terlalu mencintai.

Yang aku tahu sekarang hanyalah satu hal:

Kenyamanan itu indah saat masih ada di tangan. Tapi kerinduan yang lahir darinya jauh lebih dalam, jauh lebih nyata, dan jauh lebih menyakitkan.

Dan aku—tanpa bisa berbuat apa-apa—hanya bisa terus merindukannya, satu napas demi satu napas, satu malam demi satu malam.

Posting Komentar

Artikel ini memuat konten dewasa berbasis narasi dan refleksi, ditujukan untuk pembaca usia 18+.

© Sahabat Tanpa Batas. All rights reserved. Distributed by Pixabin